Garut – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut menyampaikan refleksi dan evaluasi akhir tahun 2025 dengan mencatat sejumlah capaian kinerja gemilang di berbagai bidang.
Capaian tersebut meliputi keamanan dan ketertiban (Kamtib), pembinaan narapidana (Binadik), pengelolaan anggaran, ketahanan pangan dan produk UMKM, hingga apresiasi bagi pegawai berprestasi.
Kegiatan refleksi akhir tahun ini dihadiri oleh perwakilan Direktorat Kepatuhan Internal Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, pejabat struktural Lapas Kelas IIA Garut, para kepala subseksi, serta jajaran petugas.
Kalapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, memaparkan evaluasi kinerja sepanjang tahun 2025 yang berfokus pada dua pilar utama pemasyarakatan, yakni pembinaan dan keamanan.
“Kegiatan di Lapas Garut tidak terlepas dari dua hal pokok, yaitu pembinaan dan keamanan. Kedua aspek ini menjadi prioritas utama, ditambah penguatan kinerja keuangan serta pelaksanaan program integrasi dan akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan,” ujar Rusdedy, Rabu (31/12/2025).
Dari sisi pengelolaan anggaran, Lapas Garut mencatat realisasi anggaran tahun 2025 mencapai 100 persen, termasuk pencapaian PNBP 100 persen yang bersumber dari kegiatan kemandirian warga binaan melalui unit-unit usaha produktif.
Dalam bidang program integrasi, sepanjang tahun 2025 Lapas Garut memberikan 669 remisi keagamaan, 669 remisi umum, dan 594 remisi dasawarsa. Selain itu, terdapat 249 warga binaan memperoleh pembebasan bersyarat, 40 cuti bersyarat, 125 bebas murni, serta 36 warga binaan telah mengantongi SK pembebasan pada tahun 2026.
Rusdedy menjelaskan, melalui optimalisasi program integrasi tersebut, Lapas Garut berhasil menekan angka hunian.
“Jumlah penghuni yang sempat mencapai lebih dari 800 orang, di akhir tahun 2025 berkurang menjadi sekitar 610 orang. Dengan demikian, overkapasitas berhasil ditekan hingga nol persen,” jelasnya.
Saat ini, jumlah warga binaan di Lapas Garut tercatat sebanyak 523 orang, dengan 368 orang atau lebih dari 60 persen telah bekerja, serta 218 orang atau sekitar 39 persen aktif dalam pembinaan kepribadian.
“Dapat dikatakan hampir seluruh warga binaan terlibat dalam kegiatan pembinaan, tidak ada yang menganggur,” tambah Rusdedy.
Pada sektor pembinaan kemandirian, Lapas Garut mengembangkan berbagai pelatihan keterampilan, di antaranya produksi roti, kopi, konveksi, hingga produksi tahu yang telah berjalan selama tiga bulan. Bahkan, Lapas Garut berhasil menembus pasar internasional melalui ekspor produk UMKM Coir Shade (serabut kelapa) ke Eropa dengan total 8.500 unit.
Di bidang keamanan, Lapas Garut kini berstatus Lapas Bersinar (Bersih dari Narkoba) melalui pelaksanaan razia rutin dan tes urine bagi warga binaan maupun petugas. Sementara itu, peningkatan pelayanan publik dilakukan dengan penguatan sistem OSINT, pemasangan CCTV 24 jam, serta penyediaan layanan kesehatan dan makanan sehat bagi warga binaan.
Sejumlah program pembinaan lainnya juga dijalankan, seperti Pesantren Taubatul Muzdhibin, rehabilitasi sosial, serta kegiatan olahraga dan seni budaya untuk membentuk karakter dan ketahanan mental warga binaan.
Sebagai bentuk apresiasi, Lapas Kelas IIA Garut memberikan penghargaan kepada jajaran berprestasi sepanjang tahun 2025. Penghargaan tersebut diberikan kepada Iim Ruhimat (Kasi Kamtib dan KPLP) atas capaian Lapas Bersinar, Bambang (Kasi Binadik) atas keberhasilan program integrasi dan penurunan overkapasitas, Anggi Mutiara Pertiwi (Kasubbag Tata Usaha) atas kinerja pengelolaan anggaran, Asep (Kasi Kegiatan Kerja) atas kontribusi dalam ketahanan pangan dan optimalisasi produk UMKM, serta Solehudin sebagai Pegawai dengan Kinerja Terbaik Tahun 2025
(Red)
